Mitos dan Asal-Usul Desa Jumprit

Alamat lengkap wana wisata pemakaman keramat Jumprit terletak di dukuh Jumprit, tepatnya di desa Tegalrejo, Kecamatan Ngadirjo, kabupaten Temanggung, dengan berada di ketinggian -/+ 1.300 meter dari permukaan laut. Jarak antara kota Temanggung sampai dukuh Jumprit sekitar 25 km, sedang dari Ngadirejo hingga Jumprit kurang lebih 5 km.

Sedang jarak antara Kecamatan Sukorejo ke Desa Jumprit sekitar 35 km, bisa kurang atau bahkan bisa lebih juga. Wana wisata pemakaman keramat Jumprit dikelola oleh Perum Perhutani KPH Kedu Utara namun masih termasuk petak 8A Kwadungan BKPH wilayah Temanggung dengan luas area 1,6 hektar.

Asal-Usul Desa Jumprit

Secara jujur, jantungku berdetak keras saat mengambil gambar lokasi altar pemujaan Ki Dipo dibanding saat mengambil kamera di area makam Resi Ciptaning. Setelah selesai mengambil gambar, aku segera keluar dari lokasi wisata menuju tempat Juru Kunci dan penjaga loket, namun monyet-monyet liar masih berseliweran di sisi kanan dan kiriku. Satu hal yang paling berkesan untukku adalah sensasi sentuhan dingin pada bulu tengkuk yang mengelus dengan lembut dan cukup meningkatkan adrenalin selama di ruangan altar.

Kulihat arloji menunjukkan pukul 10.15, hampir satu jam adalah waktu yang cukup untuk belajar dan saatnya beranjak untuk pulang, Namun, aku masih membutuhkan beberapa data terkait asal-usul, sejarah ataupun mitos desa Jumprit, siapakah Resi Ciptaning dan siapakah Ki Dipo.

" Sebelum sampeyan ( kamu ) mengerti tentang semua hal, mengenal Ki Jumprit dan asal-usul desa Jumprit adalah lebih penting dulu " kata Pak Tumar ( 49 th ), seorang juru kunci makam keramat, penduduk asli desa Jumprit yang juga keturunan Ki Jumprit, sebab yang harus menjadi juru kunci pemakaman Resi Ciptaning adalah semua keturunan laki-laki dari Ki Udotenoyo atau nama lain dari Ki Jumprit.

" Sebentar Pak " kataku sambil bergegas melangkah ke luar dari rumah loket menuju warung untuk membeli 3 botol teh sosro yang kebetulan posisi warung berada di seberang jalan. Setelah itu, kusuguhkan 3 teh botol untuk 3 orang sambil kupencet tombol HP di pengaturan rekaman. "

Dahulu, ada seorang petani yang sangat miskin yang hidup di tepi sungai Progo dengan penyakit kulit yang sangat parah. Dia bernama Ki Udotenoyo " Pak Tumar melanjutkan ceritanya. " Berbagai pengobatan sudah beliau lakukan namun tak ada hasil yang membuktikan adanya tanda-tanda kesembuhan dari penyakit kulitnya. Karena putus asa, Ki Udotenoyo hendak suduk saliro dengan terjun dan menghanyutkan badannya sendiri di sungai Progo.

Namun, sebelum beliau suduk saliro diri, dia mendengar suara ghaib yang memberikan solusi pengobatan sehingga niat untuk suduk saliro diri akhirnya beliau batalkan. Jika Ki Udotenoyo ingin sembuh dari penyakit, ia harus mandi di sebuah sendang yang letaknya di lereng gunung Sindoro, begitulah wangsit dari bisikan halus yang beliau dengar yang ternyata suara samar-samar itu adalah bisikan dari roh Pangeran Singonegoro.

Setelah berfikir yang cukup, Ki Udotenoyo minta pamit pada keluarganya untuk melaksanakan perintah ghaib tersebut. Setelah melakukan perjalanan selama satu hari satu malam, akhirnya di waktu menjelang maghrib, Ki Udotenoyo menemukan mata air sendang yang dimaksud. Tanpa menunggu waktu lebih lama, beliau langsung mandi. Keajaiban terjadi, semua penyakit kulit yang diderita Ki Udotenoyo menjadi hilang dan sembuh total.

Kemudian, Ki Udotenoyo memboyong semua keluarganya untuk tinggal dan menetap di area sendang. OLeh Ki Udotenoyo, sendang tersebut diberi nama sendang Jumprit. Tak jauh dari lokasi tersebut, beliau juga menemukan kuburan dari Pangeran Singonegoro yang kemudian Ki Udotenoyo menjadi Juru Kunci untuk yang pertama kali hingga keturunannya pun adalah yang mempunyai hak dan diberi kewajiban menjadi juru kunci, termasuk Pak Tumar.

Seiring dengan perkembangan masa, lambat laun banyak orang berdatangan ke lokasi sendang Jumprit untuk menetap hingga menjadi sebuah perkampungan. Setelah Ki Udotenoyo meninggal dunia, oleh penduduk kampung menamai beliau sebagai Ki Jumprit dan perkampungan baru dinamai Desa Jumprit untuk menghormati kerja keras dan perjuangan Ki Jumprit " jelas Pak Tumar sambil meneguk teh botol sosro.

Pertanyaannya sekarang, siapakah Pangeran Singonegoro ? Apakah seperti yang dituliskan di media internet sekarang ? Atau cerita dari versi Pak Tumar adalah yang benar ? Atau ke dua-duanya adalah benar ? Simak lanjutan ceritanya di sini Gan !

0 Comments