Mitos Sejarah Siluman Kera Putih Di Jumprit

Sebenarnya, aku enggan untuk menceritakan tentang mitos wana wisata desa Jumprit yang terkait kemunculan sosok siluman kera putih pada bulan purnama di makam keramat patilasan Resi Panembahan Ciptaning. Akan tetapi, untuk menjadi bahan pelengkap data maka aku akan suguhkan catatan di artikel tentang hal tersebut di blok note, sebab kejadiannya terlalu tahayul yang sukar untuk diterima panca indera dan akal manusia.

Seperti yang telah diceritakan oleh Pak Tumar ( 49 th ), nama seorang juru kunci makam kuno di wisata Jumprit pada era ini, dimana beliau telah menjelaskan secara detail tentang asal-usul desa Jumprit dan Ki Udotenoyo ( Ki Jumprit ), seorang penemu pertama desa Jumprit. Sekarang, mari kita simak penuturan Pak Tumar tentang siapa Ki Dipo dan siapa Pangeran Singonegoro tersebut.

wisata desa Jumprit

Pada masa peralihan islam di tanah Jawa, berdiri sebuah kerajaan yang bernama Kerajaan Demak yang dipimpin oleh Raden Patah. Sebenarnya, Raden Patah adalah bagian dari bangsawan di kerajaan Majapahit yang menjabat sebagai Adipati. Pada saat itu, Kerajaan Majapahit dibawah pimpinan Raja Kertabumi yang memuja dewa Syiwa, termasuk diantaranya adalah Pangeran Singonegoro. Karena perbedaan prinsip dan keyakinan dalam beragama, maka timbul perselisihan dan permusuhan antara Raden Patah dan Raja Kertabumi.

Sebab perselisihan dan dengan dibantu oleh Wali Songo, Raden Patah memisahkan diri dan membangun sebuah kerajaan baru yang diberi nama Kerajaan Demak. Akibatnya, permusuhan antara ke dua putra bangsawan kerajaan Majapahit menjadi semakin meruncing hingga terjadi perang saudara. Dengan semangat yang dikobarkan oleh para Wali Songo, akhirnya Kerajaan Demak memenangkan pertempuran atas Kerajaan Majapahit. Sebab kemenangan tersebut, nama Kerajaan Demak dirubah nama menjadi Kerajaan Demak Bintoro.

Kekalahan telak yang dialami Kerajaan Majapahit membuat beberapa rakyat dan putra bangsawan melarikan diri, termasuk Pangeran Singonegoro. Dalam pelarian, Pangeran Singonegoro diikuti oleh istri dan 2 orang cantrik yang bernama Ki Anduk dan Ki Wulung. Saat itu, Pangeran Singonegoro mempunyai hewan piaraan yaitu seekor kera yang berbulu putih dan diberi nama Ki Dipo. Ki Dipo selalu setia mengikuti kemana pun majikannya berada.

Menurut mitos, Ki Dipo bukan hanya seekor kera saja namun juga pandai bicara dengan bahasa manusia. Oleh sebab itu, keberadaan Ki Dipo sangat dikeramatkan oleh penduduk desa Jumprit dan diyakini oleh penduduk setempat bahwa setiap bulan purnama, Ki Dipo sering menampakkan wujud sebagai siluman kera putih. Jika ada seseorang yang tak sengaja melihat penampakan kera putih Ki Dipo, maka hampir dipastikan orang tersebut akan beruntung. Maka sebab itu, orang-orang dari luar kota sering wisata melakukan ngipri monyet ( mencari pesugihan ) dengan memuja Ki Dipo atau siluman kera putih.

Selama dalam pelarian, Pangeran Singonegoro sangat gemar bertapa / semedi di area sendang seperti ajaran Syiwa dan bergelar Resi Ciptaning dan mendirikan sebuah perguruan dengan nama Panembahan Ciptaning. Sendang dimana tempat semedi Resi Ciptaning adalah sebuah mata air yang bersumber dari 2 lereng gunung, yaitu gunung Sindoro dan Perahu. Selain gemar bersemedi, Resi Ciptaning juga mengajarkan Syiwa kepada para pengikut dan cantrik-cantrik. Karena usia yang sangat renta, Resi Ciptaning berniat ingin meneruskan semedi untuk menikmati sisa hidupnya dan akhirnya jasad Resi Ciptaning hilang ( dalam bahasa jawa disebut Mukso ).

Karena tak tahan hidup sendiri tanpa suami, istri Resi Ciptaning akhirnya meninggal dunia dan dikubur menjadi satu dengan tempat dimana Resi Ciptaning bersemedi. Setelah mengubur jasad majikannya, Ki Enduk Dan Ki Wulung meninggalkan area sendang dan menemukan 2 buah candi, yaitu candi Perot dan candi Pring Apus yang lokasinya juga masih di wilayah Ngadirejo. Dinamakan candi perot karena bentuknya miring, dan dinamakan Candi Pring Apus karena berada di rimbunan pohon bambu.

Keberadaan Ki Dipo tetap setia dan menunggu di tempat pemakaman Resi Ciptaning, mereka berkembang biak hingga berjumlah sangat banyak sampai sekarang dan sering di jumpai dilokasi makam. Menurut Pak Tumar, kera-kera tersebut tak pernah meninggalkan area sendang meski dengan kondisi yang sangat payah. Para kera-kera tersebut mempunyai hubungan mistik dengan roh Resi Ciptaning atau Pangeran Singonegoro. Kadang, Ki Dipo sering menampakkan diri saat bulan purnama dengan berujud siluman monyet putih yang diyakini dapat memberi harta yang melimpah kepada orang-orang yang tertipu pada mitos. Allohul Musta'an.

Fakta sejarah atas pemberontakan Patih Udoro


Sebenarnya, raja yang diperangi oleh Raden Patah adalah Prabu Brawijaya ke 7 yang merupakan Raja terakhir dari kerajaan majapahit. Nama asli Raja Brawijaya 7 adalah Udoro ( Patih Udara ) dimana dia adalah seorang patih dari raja Brawijaya ke 6 yang melakukan kudeta. Setelah memberontak dan berhasil m3mb*nuh Raja Brawijaya 6, patih Udoro menduduki singgasana kerajaan Majapahit dan bergelar Raja Brawijaya 7. Saat terjadi pemberontakan, Raden Patah melarikan diri ke Demak.

Oleh dukungan dari para wali Songo dan rakyat yang masih setia, Raden Patah mendirikan kerajaan yang dinamakan kerajaan Demak dan kemudian menginvasi Kerajaan Majapahit yang saat itu dipimpin oleh patih Udoro yang bergelar Brawijaya ke 7. Jadi, peperangan antara Raja Brawijaya ke 7 dengan Raden Patah adalah bukan perang saudara, akan tetapi merupakan perang untuk memperebutkan hak diatas trah ( keturunan prabu Wijaya, Raja pertama Majapahit ).

Demikian cerita saya tentang fenomena desa Jumprit, jika ada kekeliruan terkait artikel ini, saya mohon maaf karena keterbatasan informasi yang saya miliki, salam!

0 Comments