Kronologi Sejarah Pembuatan Bedug Purworejo

Sebelum membahas mengenai bagaimana kronologi pembuatan bedug pendowo, kita harus tahu tentang asal-usul kota Purworejo atau babad tanah Purworejo, sebab sejarah bedug pendowo adalah terkait erat dengan babad tanah Purworejo, atau asal-usul kota Purworejo.

 Bedug Purworejo

Sebelum ada nama kabupaten Purworejo, nama asal adalah Kadipaten Bagelen. Kronologinya, setelah perang Diponegoro berakhir pada tahun 1830, Kadipaten Bagelen di bagi menjadi 4 wilayah oleh pemerintah Belanda. Saat itu, Kadipaten Bagelen dipimpin oleh seorang adipati bergelar Adipati Cokrojoyo. Kadipaten Bagelen mempunyai wilayah yang sangat luas mulai dari perbatasan Yogyakarta hingga wilayah Cing cing goling ( sekarang bernama Luk Ulo, wilayah Kebumen ). Ke 4 pembagian wilayah tersebut adalah

1. Wilayah sebelah timur adalah Kadipaten Brengkelan, Ibukota di Kedung Kebo, palenggahan bupati ada di Suronegaran, dipimpin oleh Adipati Cokrojoyo
2. Wilayah sebelah utara adalah Kadipaten Karang Duwur, ibukota di Kemiri, dan dipimpin oleh Tumenggung Mangun Negoro
3. Wilayah sebelah selatan adalah Kadipaten Semawung ( Kutoarjo ) dipimpin oleh Notonegoro II yang bergelar Sawung Galih.
4. Kadipaten Ngaran, yang dipimpin oleh Tumenggung Arung Binang

Brengkelan mempunyai arti babat alas. Di jaman dulu, Brengkelan adalah sebuah hutan belantara kemudian dilakukan babat alas oleh Kyai Brengkel. Bupati Cokrojoyo kurang senang dengan nama Brengkelan, kemudian Cokrojoyo melapor kepada pemerintah Belanda untuk minta ijin melakukan perubahan nama dari Brengkelan menjadi Purworejo yang bermakna Purwo adalah awal, kemudian rejo mempunyai makna adalah ramai atau makmur. Jadi makna Purworejo adalah awal dari kemakmuran, maksudnya awal perkampungan yang makmur.

Setelah nama Brengkelan dirubah menjadi Purworejo, maka Adipati Cokrowijoyo mengganti gelarnya menjadi Raden Adipati Aryo Cokronegoro ke 1, karena saat itu pemerintah Belanda menjanjikan 7 turunan bagi keturunan Adipati Cokrojoyo untuk menjadi seorang Adipati di Kadipaten Purworejo. Setelah itu, beliau mulai membangun alun-alun di kadipaten Purworejo dan berencana membangun sebuah masjid. Jika anda pernah singgah di Hotel Suronegaran, itulah palenggahan ( tempat tinggal ) Adipati Cokrojoyo pada jaman dulu dan hingga sekarang masih tersimpan benda-benda pusaka peninggalan beliau.

Pohon Jati Bercabang Lima


Dulu, masyarakat desa Bragolan sangat mensakralkan sebuah pohon jati yang bercabang 5 yang diberi nama Jati Pendowo yang ada di sebuah hutan bragolan. Pohon jati tersebut mempunyai ukuran yang sangat besar karena sudah berumur ratusan tahun. Oleh Adipati Cokrojoyo, pohon jati tersebut ditebang karena beliau sangat tidak menyukai tradisi kesyirikan. Ke 5 cabang dari pohon jati pendowo dijadikan tiang mesjid, sedang yang bongkot di jadikan bedug.

Pembuatan bedug dikerjakan di hutan dengan ukuran sangat besar sesuai dengan ukuran bongkot jati. Karena pada jaman itu tidak ada angkutan dan orang-orang merasa kesulitan saat ingin membawa bedug raksasa ke kota Purworejo, maka Adipati Cokrojoyo mencari orang yang mampu membawa bedug hingga ke kota.

Adik dari seorang wedono di Purwodadi ( nama : Prawiro Negoro ) mempunyai menantu yang bernama Kyai Irshad ( bermukim di Solotiang ). Kyai Irshad ini lah yang mampu membawa bedug raksasa untuk dibawa ke Kota. Dengan kecerdasannya, Kyai Irshad mengumpulkan ranting-ranting kayu yang kemudian dibuat seperti rol yang panjangnya 500 meter. Dengan rangkaian rol dari kayu, akhirnya bedug raksasa bisa dipindahkan ke kota dengan jarak kurang lebih 9 km dari hutan pendowo dan memakan waktu hingga 20 hari.

Kemudian bedug diberi nama bedug pendowo, dan mesjid diberi nama Masjid Agung Kadipaten Purworejo dengan luas 21.5 meter x 21.5 meter yang sekarang berubah nama menjadi Masjid Darul Al Muttaqien yang sudah mengalami penambahan luas hingga 50 meter x 50 meter. Mesjid dan bedug pendowo diresmikan pada tahun 1834 M oleh Raden Adipati Aryo Cokronegoro ke 1.

Pemukulan bedug dilakukan hanya pada hari jum'at atau pada hari raya. Alamatnya ada di Kauman, sebelah barat alun-alun Purworejo. Dikatakan sebagai bedug Bagelen karena berasal dari Kadipaten Bagelen, dikatakan bedug Pendowo karena bedug dibuat dari jati pendowo. Sedang dikatakan bedug Purowrejo, karena bedug tersebut ada di Purworejo.

Pendapat saya ( www.mas3ono.com ) : dikatakan bedug terbesar di dunia karena kawasan asia tenggara adalah identik dengan budaya bedug ketimbang negara-negara di kawasan lain yang lebih memprioritaskan suara adzan ketimbang suara bedug he..he..he.

0 Comments