Sejarah dan Misteri Situs Perigi Di Banyu Urip

Membahas tentang misteri situs perigi atau prigi, ini berarti kita sedang mengupas sedikit tentang asal-usul dan sejarah lahirnya desa Banyu Urip. Alamat situs perigi berada di desa Banyu Urip, Kecamatan Banyu Urip, Kabupaten Purworejo. Rute perjalanannya, dari pasar Kenteng menuju pertigaan Banyu Urip. Kurang lebih 2.5 km, kita akan sampai di Pasar Ngori, kemudian ambil jalan ke arah kiri hingga Kantor Kepala Desa Banyu Urip, ambil jalur lurus hingga +/- 300 meter maka kita akan sampai di lokasi.

Deskripsinya, situs perigi berada di sebuah lokasi dengan ukuran kurang lebih 20 meter x 30 meter, kemudian pada sebelah kanan ada semacam aula dengan warna cat hijau dimana aula tersebut digunakan untuk tasyakuran para warga setempat untuk pesta panen. Bentuk bangunan situs perigi seperti gazebo atau lebih mirip joglo namun cukup terawat dengan ukuran kurang lebih 3 meter x 3 meter. Lantai situs perigi berwarna putih, di dalam terdapat 1 yoni dan 4 buah batu yaitu : batu duduk ( yang paling besar, konon batu ini adalah tempat duduk Raden Joyokusumo ), batu lutut, batu dakon, dan yang paling kecil adalah batu lumpang.



Sejarah situs perigi.


Sebenarnya, aku merasa kesulitan saat mencari berita akurat tentang sejarah situs perigi di desa Banyu Urip. Atas saran dari seorang warga setempat, aku disuruh menemui juru kunci situs perigi yang bernama Pak Marto ( Sumarto ) dengan rumah bercat biru dan secara kebetulan rumahnya berada disekitar area situs. Saat aku sudah sampai di rumah, aku kecewa tidak bisa bertemu karena beliau sedang pergi ke Yogyakarta untuk mengambil gaji selama bekerja menjadi juru kunci di situs perigi.

Lalu aku balik arah menuju rumah Pak Oteng Suherman dimana beliau adalah orang yang paling paham dengan babad tanah Bagelen, sebab sejarah desa Banyu Urip termasuk dalam tulisan beliau di buku Babad Tanah Begelen seri 2. Pada saat itu, beliau sedang menerima seorang tamu dan aku merasa sangat tidak bijak jika aku bertanya tentang persoalan itu. Akhirnya, aku pergi ke Toko Muda Jaya untuk membeli buku Babad Tanah Bagelen seri 2, namun stok buku ternyata sudah habis. Akhirnya, aku pergi ke toko Hajjah Nur untuk membaca buku komik yang sedikit membahas tentang riwayat Banyu Urip dan situs perigi.

Dikisahkan, Raja Majapahit yaitu Brawijaya 5, adalah sangat marah kepada Raden Joyokusumo karena tidak hadir dalam rapat khusus kerajaan, padahal semua putra bangsawan menghadiri rapat tersebut. Raden Joyokusumo adalah adik tiri dari seorang istri selir Raja Brawijaya. Saat semua mengikuti rapat kerajaan, Raden Joyokusumo dan adik nya, Galuh Wati, malahan asik bermain burung puyuh yang bernama Ki Kebrok, burung kesayangannya.

Akibat kemarahan Raja Brawijaya, Raden Joyokusumo dan Galuhwati diusir dan pergi dari kerajaan Majapahit. Dengan susah payah, akhirnya kakak dan adik sampai di suatu tempat. Akibat perjalanan yang sangat jauh, Galuh Wati diserang demam dan kehausan. Akhirnya, Raden Joyokusumo menancapkan sebilah keris pusaka miliknya ke tanah. Sebuah keajaiban, tanah bekas tancapan keris tersebut memunculkan air yang sangat deras. Dengan air tersebut, mereka minum dan mandi.

Kemudian, Raden Joyokusumo mendirikan sebuah bangunan yang digunakan untuk bertapa. Bangunan tersebut diberi nama Perigi yang artinya adalah mendatangi ( murugi, jawa ), karena setelah muncul mata air atau sumur, datanglah orang-orang dari luar kota yang ingin menetap di sana. Istilah Banyu Urip itu sendiri diambil dari kata banyu dan urip, yang bermakna air kehidupan karena saat Galuhwati hampir mati, air yang muncul dari tanah bekas tancapan keris adalah memberi kehidupan bagi mereka.

Ada darah di lobang yoni.


Ketika aku melihat sisi dalam situs, aku merasa penasaran dengan candi yoni yang diberi tutup dari sebuah kayu. Ingin langsung masuk ke dalam situs, tapi dikunci. Ingin melompat, aku nanti dituduh maling. Akhirnya, aku berputar ke kanan dinding situs, mencari posisi yang terdekat yoni. Setelah aku melihat situasi yang aman dan tak ada orang, maka aku segera membuka tutup itu. Aku kaget, ada darah kental dengan bau amis dan dirubung banyak semut.

Segera aku tutup kembali lobang yoni dengan perasaan kuatir karena takut ada orang yang melihat tingkahku. Sebab ada larangan, dilarang masuk tanpa ijin. Lalu aku pergi ke rumah salah satu warga setempat yang lokasinya tak jauh dari situs.

" Banyak orang dari luar kota yang datang kesini untuk memperbaiki nasib. Mereka minta petunjuk pada juru kunci supaya diberi jalan alternatif, lalu mereka berdoa dan menyembelih korban. Setiap malam jum'at dan hari-hari tertentu, mereka harus tirakat sepanjang malam di aula. Jika mereka berhasil dalam usaha, mereka akan menggelar syukuran di aula tersebut" Kata seorang warga setempat yang tak mau menyebutkan nama.

Kemudian aku memandang di belakang bangunan situs, ada sebuah pohon besar yang berumur ratusan bahkan mungkin hingga ribuan tahun. Dibawah pohon tersebut dibangun gundukan tanah yang ditinggikan ( Siti Hinggil ) dan ditancap sebuah papan yang ditulis " Pengunjung Di Larang Naik ke Lokasi ini". Kemudian aku melihat pohon yang besar itu, dan aku tersenyum.

Dalam hatiku mengucap, kapan negara Indonesia akan menjadi lebih maju jika warganya masih kental dengan mitos dan budaya kesyirikan? Lalu kutarik gas pada sepeda motorku dan berlalu dari area situs perigi. Salam !.

0 Comments