Wisata Geger Menjangan Berubah Menjadi Angker

2 Tahun yang lalu, lokasi taman wisata Simbah Imam Puro di bukit geger menjangan, tepatnya di desa Candi, Kecamatan Baledono, adalah salah satu gardu pandang yang indah dan berada di pusat kota Purworejo. Dulu pula, gardu pandang ini banyak didatangi pengunjung baik itu pengunjung lokal maupun pengunjung yang datang dari luar kota, bahkan pengunjung dari luar Jawa Tengah.

Setiap hari libur terutama pada hari minggu, banyak ratusan pengunjung yang mayoritas muda-mudi hadir di tempat ini, menikmati indahnya kota Purworejo dari atas gardu pandang di bukit geger menjangan atau dikenal dengan Taman wisata Imam Puro yang hingga kini papan iklan tentang taman wisata tersebut masih dipajang.

Wisata Geger Menjangan

Namun kemarin, minggu 1 November 2015, aku mengunjungi taman wisata itu untuk mengambil gambar terkait panorama indah kota Purworejo yang bisa dilihat dari gardu pandang di bukit geger menjangan. Setelah masuk area masjid dan sepeda motor aku parkir, aku melihat keadaan sepi. Dulu, tempat ini banyak kendaraan para pengunjung yang parkir di depan masjid yang memang lokasi bangunan mesjid tersebut berada di bawah bukit.

Namun, aku tak menaruh rasa curiga apapun di pikiranku. Mungkin, minggu ini belum ada pengunjung yang hadir karena aku datang kesini pada jam 09.00 dan mungkin masih terlalu pagi, gumanku dalam hati. Lalu, aku segera naik ke atas bukit, dan tak lupa pula aku ucapkan salam pada penghuni kubur karena jalur yang aku tempuh adalah melewati area kuburan.

Ada 4 ayam hutan mengikuti langkahku di belakang


Setelah aku melewati beberapa kuburan, tiba-tiba muncul 4 ayam hutan dari rumpun bambu yang berada di sebelah kanan jalan. Tapi, aku tak menaruh curiga sedikit pun dan aku anggap itu adalah ayam hutan liar yang biasa sering muncul di hutan atau tanaman yang rimbun. Ketika aku melewati ke empat ayam hutan tersebut, anehnya, ayam hutan tersebut tidak lari. Padahal, ayam seharusnya lari jika didekati manusia, akan tetapi ini sungguh aneh. Akan tetapi, aku tidak punya pikiran aneh yang nyleneh dan aku tetap lanjutkan perjalanan ke bukit.

Setelah beberapa langkah ke depan, tiba-tiba aku punya keinginan untuk menengok ke belakang. Aku kaget untuk yang kedua kali, ternyata ke empat ayam hutan itu mengikuti langkahku. " Hai, apa kalian ingin makanan ? Tapi, aku tidak bawa makanan " kataku kepada ke empat ayam hutan. Iya, aku lupa membawa makanan ringan yang biasa kumasukkan ke dalam tas kecil. Isi dalam tasku hanya sebotol pocary sweet, bolpoint, bloknote, dan hape lawas.

" Sebentar, ya " kataku lagi sambil membuka saku tas bagian depan, tempat biasa aku menaruh HP dengan maksud untuk mengambil gambar tentang ke empat ayam hutan dan akan aku apload ke youtube atau aku posting di website ini. Ketika aku selesai mengatur HP di bagian kamera, aku kaget untuk yang ketiga kali, ayam hutan itu hilang entah dimana dan aku cari-cari tidak ketemu. Aku coba memanggil mereka seperti ketika aku memanggil ayam peliharaanku di rumah " Ck..ck..ck ! Ck...ck...ck ! Namun, ke empat ayam hutan tersebut tak nampak lagi. Lalu aku lanjutkan perjalananku untuk naik ke atas di bukit geger menjangan.

Selingan sebentar, legenda Simbah Imam Puro


Simbah Imam Puro mempunyai nama asli Kunawi, beliau termasuk salah satu pahlawan perjuangan yang ikut andil dan mendukung perang Diponegoro di tahun 1825 - 1830. Beliau pernah mendirikan pondok pesantren di Sidomulyo, Ngemplak yang kini bernama Al Ishlah sehingga beliau punya banyak jasa dalam usaha penyebaran agama di Jawa Tengah. Simbah Imam Puro adalah keturunan ke-9 dari Raja Mataram, Sultan Agung Hanyokrokusumo.

Selama hidup, Simbah Imam Puro mengabdikan diri pada agama dengan membentuk sebuah thoriqoh, dengan nama Thoriqoh Syattoriyah. Simbah Imam Puro meninggal dunia pada tahun 1880. Untuk mengenang jasa-jasa selama perjuangan, banyak peziarah yang hadir ke makam Imam Puro dengan berbagai kepentingan yang dimiliki. Sekarang, makam Simbah Imam Puro dikelola dan dirawat oleh seorang juru kunci yang bernama Mbah Thoifur, warga kecamatan Loano. Purworejo.

Taman wisata Imam Puro berubah menjadi angker dan tak terawat.


Setelah aku naik dan hampir sampai ke bukit bagian atas, aku membatalkan niat untuk menuju gardu pandang utama yaitu di gazebo. Gazebo ini terletak di bukit paling atas dan bisa dilihat dari bawah jika anda berada di tengah area kota Purworejo. Saat aku hampir sampai di ujung gardu utama, aku kecewa karena kondisi jalan yang tidak terawat dan banyak daun-daun kering yang berserakan di tengah jalan. Di sekitar jalan menuju gardu pandang, ditumbuhi rumput-rumput liar dengan tinggi hampir hingga dada orang dewasa. Pemandangan yang seharusnya indah, mendadak menjadi suasana angker dan seram.

Sebetulnya, aku tidak takut dengan suasana angker. Akan tetapi, untuk melanjutkan perjalanan hingga ke gardu pandang di bagian tertinggi, aku merasa tidak mungkin untuk lanjutkan dan harus balik kanan menuju pulang. Ketakutanku bukan masalah ada makhluk halus atau kejadian kesurupan seperti yang pernah dialami beberapa orang. Namun, aku kuatir ada ular besar sejenis anaconda atau ular berbisa yang tiba-tiba menyerangku, sedangkan aku tak bawa senjata tajam untuk bertahan atau melawan. Akhirnya, aku turun lagi dari bukit dan batal untuk melanjutkan perjalanan.

Cerita penduduk setempat


Kupacu sepeda motorku menuju kota Purworejo. Sampai di kolam renang Arta Tirta yang lokasinya tak jauh dari taman wisata Imam Puro, aku istirahat di sebuah warung yang letaknya di depan kolam renang Arta Tirta untuk membeli es teh karena minuman pocari sweetku telah habis. Kemudian, aku bercakap-cakap dengan salah satu pengunjung warung mengenai taman wisata Imam Puro yang tak terawat, dia menjelaskan:

" Iya mas, sekarang sudah beda kondisi gardu pandang Imam Puro ketimbang waktu dulu. Banyak pengunjung yang buang sampah sembarangan, tidak memperhatikan kebersihan area taman sehingga pengelola taman merasa enggan untuk merawat nya. Padahal, masuk ke area wisata tersebut adalah gratis dan tak perlu bayar, hanya disuruh menjaga kebersihan saja. Terkait 4 ayam hutan yang Mas3ono temukan, mungkin itu adalah sejenis makhluk halus penunggu rumpun bambu"

Hah ! Aku kaget untuk yang keempat kali ! Salam !

0 Comments